Elaborasi Program 100

June 13th, 2008 by hetifah

MEMFASILITASI 100 LEMBAGA KEUANGAN MIKRO
Jasa keuangan seperti tabungan dan kredit seharusnya dapat dinikmati oleh banyak pihak, tidak hanya oleh masyarakat menengah ke atas saja. Pada kenyataannya, saat ini jasa keuangan yang disajikan oleh lembaga keuangan konvensional (bank) hanya dapat diakses oleh masyarakat kelas menengah ke atas. Khusus untuk kredit usaha, mayoritas usaha kecil di Indonesia (sekitar 90% dari total unit usaha di Indonesia menurut data dari Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2006) belum dapat mengakses kredit usaha ke bank, padahal kelompok ini merupakan kelompok penting karena penyerapan tenaga kerja yang tinggi. Pentingnya LKM bagi masyarakat miskin telah terbukti terutama dari adanya penghargaan Nobel kepada salah satu pendiri LKM terbesar di dunia yaitu Prof. Yunus di Bangladesh

Alternatif bagi kelompok usaha kecil dan menengah pada khususnya atau kelompok miskin pada umumnya adalah jasa lembaga keuangan mikro. Di Indonesia, termasuk di Bandung, lembaga keuangan ini sudah banyak tersebar, antara lain dalam bentuk koperasi simpan pinjam, baitul maal wat tamwil (BMT), kegiatan simpan pinjam yang didorong oleh LSM, bahkan termasuk program-program kredit bagi UKM yang diluncurkan oleh pemerintah sendiri. Kesemuanya merupakan upaya alternatif penyediaan jasa keuangan mikro bagi kelompok miskin dan kecil. Hanya umumnya LKM ini masih bergerak di bidang simpan pinjam saja.

Dalam rangka meningkatkan peranan LKM di Kota Bandung, pemerintah Kota Bandung dapat berperan sebagai fasilitator bagi LKM-LKM tersebut. Peran ini antara lain diwujudkan dengan 1) Pemberian insentif/reward bagi LKM yang dinilai mempunyai inovasi dalam mengembangkan jasa layanan bagi kelompok miskin (misalnya di luar kredit, mengembangkan skema asuransi usaha bagi kelompok miskin); 2) Mendorong pelatihan atau training bagi inovasi baru di bidang keuangan mikro seperti penyediaan sistem jaminan kredit macet.

MENYEDIAKAN 100 AREA PKL

PKL bagi pemerintah kota sering dianggap sebagai perusak keindahan kota dan penyebab kesemrawutan dan kemacetan. Padahal di sisi lain, PKL mempunyai peranan penting di dalam perekonomian perkotaan. Pada sebuah seminar yang disponsorip LGSP USAID, GKG Laksaketi menyebutkan bahwa nilai transaksi perdagangan sektor informal/PKL mencapai 2.68 Triliun, walaupun hal ini dibantah oleh perwakilan Pemkot Bandung di seminar yang sama karena PDRB Kota Bandung tidak memperhitungkan kontribusi sektor informal/PKL. Selain itu, klaim bahwa PKL penyebab kemacetan dan ketidakteraturan juga cenderung menyamaratakan PKL sebagai satu-satunya biang kerok. Padahal secara kasat mata kita melihat bahwa pertumbuhan factory outlets dan mal seperti PvJ juga menyebabkan kemacetan yang luar biasa di kota Bandung.

Penanganan PKL cenderung bersifat represif melalui penggusuran, sementara penataan atau pengaturan cenderung mengabaikan karakter PKL sendiri. Pemindahan PKL di daerah Alun-alun ke dalam arena Dezone misalnya, atau PKL di Karapitan ke lantai paling bawah dari mal, menempatkan PKL pada posisi yang tidak strategis sehingga ketika dagangan mereka tidak laku, akhirnya mereka kembali ke jalan.

Alasan ketiadaaan lahan untuk arena PKL sebenarnya kurang tepat jika kita bandingkan berapa lahan yang bisa disediakan pemerintah Kota Bandung untuk pembangunan pusat perbelanjaan modern dan mal-mal mewah, yang sebenarnya sudah terlalu banyak untuk Koat Bandung. Pemda Kota Bandung dapat belajar dari Kota Solo dalam penangaan PKL yang lebih persuasif. Kami berhipotesis bahwa PKL pada dasarnya bersedia bekerjasama untuk menciptkaan keindahan dan ketertiban kota Bandung, sepanjang bahwa ajakan ini disampaikan dengan persuasif. Oleh karena itu langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah 1) melakukan pemetaan terhadap lokasi PKL serta karakteritstiknya 2) memetakan lokasi2 strategis milik Pemda (Pemda bisa menjadi investornya) untuk dibangun pasar-pasar tradisional) 3) Melakukan dialog dengan PKL termasuk menerima masukan PKL agar desain pasar maupun lokasi baru tetap bersahabat dengan PKL dan kelompok konsumennya

MEMFASILITASI 100 KLINIK UKM /BDS

Pada tahun 2006, dari sekitar 88.9 juta orang bekerja, sekitar 80.9 juta orang bekerja di sektor usaha kecil, sementara 4.4 juta orang bekerja di sektor usaha menengah. Hampir 90% unit usaha adalah termasuk usaha kecil dan menengah (Kantor Menteri Negara Koperasi dan UKM, 2006). Di samping modal, UKM juga membutuhkan bantuan-bantuan lain seperti pemasaran atau pengembangan desain. Terutama dalam hal pengembangan desain ini banyak UKM yang menghadapi tantangan karena desain mereka sering mengambil dari desain yang sudah ada (misalnya industri boneka mengambil desain tokoh-tokoh kartun dari televisi), yang kemudian menimbulkan persoalan pada hak cipta.

Sebenarnya telah ada upaya bantuan yang dilakukan pemerintah untuk membantu UKM dari sisi pemasaran ataupun pengembangan produk. Akan tetapi ada beberapa kelemahan dari bantuan tersebut. Pertama, sering bantuan tersebut tidak cocok dengan kebutuan usaha kecil. Misalkan industri kecil logam mendapatkan bantuan mesin yang ternyata tidak dapat dimanfaatkan karena mesin tersebut membutuhkan energi yang lebih besar, sementara kapasitas produksinya masih terbatas. Kedua, bantuan bersifat proyek sehingga tidak jelas pertanggunjawaban maupun keberlanjutannya. Hal ini sering disebabkan karena pegawai instansi yang bersangkutan tidak mengenali karakter usaha kecil yang dibantu atau memang tidak mempunyai kapasitas untuk bertindak sebagai konsultan atau pendamping pengembangan UKM.

DI sisi lain banyak pihak yang dengan kapasitas masing-masing terlibat dalam upaya pengembangan UKM. Sama halnya dengan pengembangan lembaga keuangan mikro pemerintah dapat bertindak sebagai fasiltiator, dalam artian mendorong BDS-BDS yang inovatif dengan memberiakn semacam penghargaan/insentif bagi BDS tersebut.

MEMBANGUN 100 PUSAT KETRAMPILAN

Angka pengangguran relatif masih tinggi di Kota Bandung. Pendidikan yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas manusia juga jauh dari harapan terutama karena pendidikan umum yang tersedia tidak menjadikan seseorang siap kerja. Di sisi lain, terdapat perkembangan kegiatan wirausaha yang berhasil yang dapat menyerap tenaga kerja, namun masih mengalami kendala untuk mendapatkan tenaga kerja yang terlatih.

Pembangunan pusat ketrampilan dapat menjadi sarana untuk mempertemukan kebutuhan antara kegiatan ekonomi yang berkembang di Bandung dengan para pencari kerja. Hal yang perlu dilakukan adalah mengenali kebutuhan industri/kegiatan ekonomi yang dominan di Kota Bandung akan tenaga kerja, karakteristik atau ketrampilan yang dibutuhkan, dan lain-lain. Identifikasi ini yang kemudian menjadi dasar untuk menentukan jenis ketrampilan apa yang akan disediakan oleh kota Bandung.

Belajar dari Kabupaten Sragen, Kota Bandung juga dapat mendorong munculnya wirausaha baru dengan mendorong penduduk kota Bandung mempelajari suatu ketrampilan yang kemudian dapat dikerjakan di Kota Bandung.

PROGRAM 100 BANDUNG KREATIF

June 13th, 2008 by hetifah

Program 100 pada dasarnya tidak bertumpu pada angka 100, karena justru target yang diinginkan adalah lebih dari 100. Hal ini dengan memandang luasnya cakupan Bandung dan besarnya pola kreasi dengan pengalaman akademik dan ilmiah sebagai seorang yang memiliki kapasitas kepakaran di bidang penataan ruang wilayah kota (ilmu planologi) yang ingin diimplementasikan. Keterukuran, sebenarnya adalah tujuan Program 100 ini, sehingga direfleksikan bahwa kepemimpinan mesti memberi hal-hal yang serba terukur demi kemudahan sikap kritis dan keperluan evaluasi demi terciptanya tata kota yang lebih baik.

Hal ini mesti dilakukan oleh seorang yang tak hanya memiliki kapabilitas dan pengalaman dalam bidang keilmuan tata kota, namun juga memiliki kemampuan manajemen organisasi dan sikap kepemimpinan yang baik dan teruji. Kompleksitas penataan kota Bandung dan kepemimpinan keprofesian di organisasi Ikatan Alumni Planologi ITB merupakan modal dasar mengapa Program 100 Bandung Kreatif ini dilancarkan. Kompleksitas perencanaan kota seperti Bandung untuk sinergisasi potensi kreatif di dalamnya memerlukan kepemimpinan yang memiliki visi yang interdisiplin, tak hanya di bidang perencanaan sipil, namun juga bidang-bidang lain seperti ilmu politik dan organisasi, ilmu manajemen dan ekonomi, yang saling kait-mengkait menghasilkan kepemimpinan yang lintas disiplin ilmu. Ketika ilmu pengetahuan menjadi dasar kebijakan, maka kejujuran adalah bahasanya dan refutability menjadi landasan geraknya untuk menghasilkan kehidupan kotamadya yang lebih baik. Melalui Program 100 Bandung Kreatif ini, maka Bandung dapat menjadi satu blue print kota di wilayah Republik Indonesia dengan tata kepemimpinan dan perencanaan yang komprehensif dan saintifik yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, sekaligus mampu mendorong potensi kreatif dan inovatif menghadapi persoalan bangsa dan kemasyarakatan yang semakin rumit dan sulit di tengah arus globalisasi.

Kepemimpinan Kota dengan Program 100 Bandung Kreatif merupakan isu yang membungkus proyek percontohan ketika perencanaan inovatif dan ekonomi kreatif menjadi landasan gerak menuju kerangka masyarakat yang lebih baik. Program 100 Bandung Kreatif akhirnya memiliki visi nasional bahkan global namun memiliki sensitivitas yang tinggi atas aspek lokal masyarakat.

Beberapa butir dari Program 100 Bandung Kreatif ini antara lain dijabarkan sebagai berikut:

1. Membangun 100 Perpustakaan Desain
Di Institut Teknologi Bandung saja, terdapat lebih dari 100 orang sarjana di bidang desain dan seni (sumber: ITB, 2007). Untuk wilayah Bandung, intelektual di bidang desain dan kretativitas ini ditambah lagi dengan berbagai sentra pendidikan desain dan seni di lingkungan swasta seperti Sekolah Tinggi Seni Indonesia yang bertempat di Bandung. Sebagai sebuah kota kreatif, maka berbagai pengembangan inovatif dan kreatif terkait desain perlu disokong oleh perpustakaan desain. Perpustakaan desain ini merupakan tempat berbagai hasil inovasi seni dan budaya terdata dengan baik ditambah dengan berbagai sumber referensi terkait pengembangan desain di kota Bandung. Perpustakaan desain merupakan hal yang sangat penting yang dapat dimotori oleh berbagai kelembagaan seni dan pusat-pusat studi seni yang memang marak di wilayah kota Bandung. Program 100 Perpustakaan Desain ini pada gilirannya akan menjadi sumber basis data referensi bahkan inspirasi bagi berbagai inovasi desain berbagai produk yang dikembangkan tak hanya di Bandung, tapi juga Indonesia dan dunia secara umum.

2. Menyediakan 100 Hot Spot Internet
Bandung dikenal sebagai kota lembah silikon (silicon valey) di Indonesia. Kota Bandung juga terkenal dengan salah satu kota perintis dalam zona internet hot spot melalui berbagai provider internet lokal kota Bandung ternama yang menyertai tongkrongan café, bandar udara, restoran dan hotel, hingga kampus. Gambar di bawah menunjukkan tingginya kebutuhan akan jumlah hotspot internet di kota Bandung, meskipun dalam fraksinya relatif terhadap luas wilayahnya masih lebih tinggi daripada Jakarta dan Bogor.

Bandung Kota Hotspot:
Gambaran perbandingan jumlah hotspot internet di Jakarta, Bandung, dan Bogor
(dari berbagai sumber)

Dorongan pembangun 100 tempat hotspot internet baru di Bandung akan mendorong banyak hal:
- Pemasyarakatan penggunaan internet di kota Bandung yang semakin menunjukkan karakternya sebagai pionir lembah silikon di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2006) partisipasi penggunaan internet di Indonesia masih sangat rendah ( 10). Kejuaraan kompetisi ilmiah di level nasional dan internasional mesti disokong untuk peningkatan kepercayaan diri dan kiprah Indonesia di level internasional. Di sini, visi kepemimpinan dalam wawasan akademis manajemen kota Bandung sangat diperlukan. Program 100 kali Juara Kompetisi Ilmiah dapat digalakkan untuk memenangkan berbagai event kompetisi ilmiah seperti olimpiade sains, lomba karya ilmiah, berbagai lomba karya tulis, dan sebagainya, termasuk berbagai kompetisi ilmiah bagi mereka yang berbeda di lembaga pendidikan luar biasa maupun pendidikan kejuruan, untuk mendorong citra Bandung sebagai kota yang ramah pendidikan dan masyarakat akademik. Hal-hal ini dapat dilakukan dengan pelibatan berbagai sentra pendidikan di kota Bandung yang memang disokong oleh lebih dari 7000 dosen perguruan tinggi dan hampir 100,000 orang mahasiswa yang tinggal di Bandung (2003) dalam pembinaan sekitar 650,000 siswa di berbagai lembaga pendidikan mulai dari TK hingga SLTA yang berjumlah lebih dari 1500 di wilayah kotamadya Bandung.

27. Membangun 100 Studio Musik & Karaoke Keluarga yang Terjangkau
Dalam babad mitologi Sunda, dikisahkan leluhur masyarakat pulau Jawa yaitu Hariang Banga dan Ciung Wanara setelah pertempuran di antara keduanya memilih untuk berdamai dan kemudian masing-masing berpisah. Ranghiang Banga memilih jalan ke arah timur sambil ber-syair dan ia merupakan leluhur suku Jawa, sementara Ciung Wanara yang merupakan leluhur orang Sunda, memilih ke arah barat sambil bernyanyi. Mitologi ini menunjukkan adanya afinitas orang Bandung, sebagai ibu kotanya orang Sunda, untuk bernyanyi.

Berbagai kontes musik seperti Indonesian Idol, Akademi Fantasi, Mamamia dan sebagainya telah menghiasi layar kaca nasional, namun dimanakah prestasi warga Bandung? Studio Musik tempat generasi muda dapat mengasah kreatifitasnya dalam akuisisi seni musik masih terasa langka dan jarang. Tempat karaoke keluarga yang murah masih sangat kurang. Sebagai sebuah bentuk rekreasi di tengah hiruk pikuk dan kepenatan kota besar dan padat seperti Bandung, karaoke keluarga dapat menjadi sebuah media ekspresi yang positif. Justru sangat disayangkan, malah karaoke sering ter-asosiasi-kan dengan hal-hal yang negative dalam aspek masyarakat Timur. Melalui pembangunan 100 studio musi baru dan fasilitas karaoke keluarga baru dengan harga terjangkau, hal ini dapat diubah. Sebagai sebuah percontohan kota kreatif, Bandung dapat menjadi kota musik, ketika lagu dan keakraban keluarga dapat mencairkan suasana dan secara produktif mendorong kreasi di bidang seni musik.

MENJADIKAN BANDUNG KOTA KREATIF: BUTUH PEMIMPIN DAN BIROKRASI YANG INOVATIF

June 13th, 2008 by hetifah

Warga kota yang cerdas, memiliki motivasi, imajinasi dan kreativitas adalah sumber daya utama dari kota seperti Bandung. Merekalah yang akan menentukan masa depan kota dan kemampuan kota untuk beradaptasi dan bertahan dari berbagai transisi dan krisis. Dalam situasi krisis seperti saat ini, banyak solusi lama tidak dapat bekerja lagi.Namun mampu atau tidaknya suatu kota mencari solusi dan melampaui krisis tersebut, selain tergantung warganya, juga sangat tergantung pada orang-orang yang diberi amanat untuk merencanakan dan mengelolanya. Apakah pimpinan dan birokrasi kota bisa berpikir, merencana, dan bertindak secara kreatif dan menjadikan hal-hal inovatif menjadi realitas atau tidak, adalah satu tantangan kota-kota masa kini.

Perlu kepercayaan diri

Hal pertama yang perlu ada adalah adanya rasa percaya diri dari pemimpin bahwa persoalan-persoalan perkotaan yang nampak rumit sesungguhnya masih bisa dicari jalan keluarnya melalui cara-cara yang tidak konvensional. Kepemimpinan yang visioner dan sekaligus mampu memberikan dorongan bagi publik, sektor swasta maupun kelompok swadaya untuk terlibat sangat dibutuhkan. Jika pemimpin tetap mencoba memecahkan segala masalah perkotaan dengan cara-cara lama, masalah-masalah yang sama juga akan terus dihadapi. Karena dinamika yang sangat tinggi dan perubahan yang pesat di kota-kota seperti Bandung, kita tidak akan mungkin memecahkan persoalan hari ini dengan cara berpikir seperti sepuluh tahun lalu. Sayangnya pemimpin bisa terjebak dalam sistem administrasi pengelolaan kota yang sangat rigid, yang sangat tidak sesuai dengan masalah perkotaan yang menuntut adanya respons yang unik dan cepat untuk masing-masing persoalan.

Sebagai agen-agen pelaksana tugas sehari-hari dari keputusan-keputusan penting yang telah dibuat para pengambil keputusan tentang apa potensi kota dan bagaimana kota dikembangkan, biasanya birokrasi tidak memperoleh cukup kesempatan untuk memperdebatkan berbagai alternatif strategi dan langkah aksi yang bisa diambil. Adalah juga hal yang biasa ketika birokrasi lambat atau lalai menanggapi suatu masalah sederhana namun penting seperti menambal jalan berlubang atau mencegah tanaman di taman kota agar tidak mati karena kekeringan. Kota yang kreatif menuntut adanya perubahan paradigma, cara berpikir dan cara bekerja yang baru dari para aparat birokrasi di kota. Mereka perlu lebih tanggap dan mau membuka diri terhadap berbagai ide dan gagasan-gagasan baru dan kemudian menerjemahkannya ke dalam langkah-langkah praktis. Metode kerja, penyusunan rencana program maupun anggaran tentunya tidak mengarah pada satu jawaban pasti, tetapi akan membuka diri pada berbagai kemungkinan dari mana inovasi dan ide-ide baru biasanya muncul. Institusi birokrasi yang inovatif menuntut adanya prosedur baru dalam perencanaan dan pemecahan masalah yang bersifat lebih fleksibel, partisipatif dan reflektif. Ide kreatif akan lebih sukses ketika dilaksanakan oleh aparat pelaksana yang juga berpikir dan bekerja kreatif.

Beberapa contoh solusi kreatif

Ketika kita dihadapkan pada masalah transportasi di perkotaan, polusi, serta adanya lonjakan harga BBM, misalnya, maka berbagai moda transportasi alternatif yang hemat enerji dan sekaligus bisa dinikmati seperti berjalan kaki, bersepeda, dan berbecak, bisa didorong dan diberi tempat yang lebih layak dengan menyediakan ruang yang aman dan nyaman maupun fasilitas lain yang memadai. Saat ini kota Bandung menakutkan bagi pejalan kaki dan pemakai sepeda karena berbagai resiko yang harus dihadapi seperti terserempet atau menjadi korban tabrak lari. Tidak ada tempat-tempat istirahat dan tempat parkir yang aman bagi mereka di jalan-jalan utama seperti jalan Dago, Merdeka, dan RE Martadinata (Riau). Secara paralel, pemikiran-pemikiran imajinatif dalam penggunaan enerji alternatif untuk transportasi juga bisa dikembangkan oleh perguruan tinggi seperti Institut Teknologi Bandung. Berbagai kemungkinan pengembangan dan penyesuaian transportasi publik tentu bisa didiskusikan dengan melibatkan sektor bisnis transportasi maupun perwakilan dari pemakai jasa. Pendekatan yang lebih holistik untuk mengembangkan mass-rapid transport seperti monorail juga dapat terus dijajaki kemungkinannya.

Partisipasi akan menghasilkan solusi yang kaya

Kreativitas dalam memecahkan masalah perkotaan yang kompleks lebih mungkin untuk dikembangkan di kota-kota yang merupakan amalgama dari berbagai jenis orang dengan berbagai keahlian, budaya, usia, jenis kelamin, dan kepedulian sosialnya. Pendekatan-pendekatan yang partisipatif dan inklusif akan menghasilkan solusi yang kaya, variatif dan tepat guna. Solusi kreatif menuntut adanya kapasitas untuk mengkombinasikan pemikiran konseptual dengan kemampuan praktikal. Jarang sekali kombinasi berbagai kemampuan ini ada dalam satu orang, tapi sangat mungkin ada dalam tim. Itu sebabnya pemecahan setiap masalah perkotaan sebaiknya dilakukan tim yang mengkombinasikan berbagai orang yang memiliki kepentingan, kepedulian dan sekaligus kompetensi dalam bidang tersebut.

Pemecahan masalah perkotaan yang kreatif dan bertanggung jawab merupakan satu perjalanan bukan tujuan. Proses menjadi penting, karena setiap upaya perlu dicek, diadaptasi dan diperbaiki terus menerus. Proses ini membutuhkan keterlibatan aktif dari mereka yang akan mengalami masalah maupun yang akan terkena dampak dari suatu kegiatan.

Perencanaan adalah proses kreatif
Ke depan, jika Bandung akan dikembangkan menjadi “Kota Kreatif” sangat diperlukan adanya upaya yang masif untuk meningkatkan kapasitas kepemimpinan dan cara kerja birokrasi, temasuk dalam cara bagaimana rencana dibuat dan siapa yang membuat. Dalam pandangan saya, seorang perencana adalah mereka yang memfasilitasi proses urban strategy making yang bersifat konsultatif dan partisipatif, bukan mereka yang menyusun rencana dengan cara teknokratis semata. Pembuatan strategi kota memiliki lingkup yang lebih luas dari sekedar perencanaan kota yang klasik. Ketika membuat strategi kota, para perencana tidak boleh meremehkan dinamika sosial dan ekonomi yang sedang berlangsung di kota, namun sebaliknya, memanfaatkannya untuk memperbaiki atau memecahkan masalah secara kreatif. Para perencana jangan terjebak dalam proses birokrasi yang inkreatif dan perencanaan hendaknya dibuat menjadi proses yang bersifat deliberatif bukan proses teknis yang sempit.

Untuk Bandung Tercinta (part-2)

June 13th, 2008 by hetifah

Sebagai orang yang dilahirkan dan menghabiskan sebagian besar hidup di Bandung, saya merasa prihatin melihat adanya penurunan kualitas lingkungan maupun kualitas kehidupan warga Bandung dan tergerak untuk ikut berkontribusi mencari pemecahannya secara cerdas,kreatif dan partisipatif.

•Masalah-masalah perkotaan di Bandung tidak bisa dipecahkan
hanya dari aspek teknis, tapi juga menuntut adanya kepemimpinan yang kompeten, tanggap, dan peduli.

•Tantangan ke depan adalah bagaimana agar berbagai inisiatif dan
energi kreatif dan inovatif bisa berkembang di Bandung.

•Kualitas kepemimpinan yang dituntut kota Bandung saat ini adalah
adanya keseimbangan antara kepedulian, keberanian, dan keahlian sekaligus. Yaitu kepemimpinan yang mau mendengar apa yang diinginkan warganya dan memahami apa yang dibutuhkan kota ini, bisa tegas mengambil keputusan, dan bisa mengajak berbagai pihak untuk bersama menjalankannya.

Apa yang seharusnya dilakukan?
•Mencari terobosan dan keluar dari cara berpikir tradisional
•Pemanfaatan best practices dan bad practices dalam proses
perencanaan •Komitmen bersama dan meminimalkan ego-
sektoral
•Stakeholder democracy – pengambilan keputusan secara
inklusif
•Membawa pelayanan kepada warga bukan sebaliknya
•Melihat pedagang kaki lima dan sektor informal sebagai aset,
bukan masalah
•Memfokuskan pada hasil bukan input dalam penggunaan
anggaran daerah

Bagaimana caranya?
•Membuka akses terhadap pelayanan dasar dan pelayanan publik
seperti pendidikan, kesehatan, perumahan yang layak, kesempatan berusaha, informasi dan akses internet bagi warga.
•Memecahkan masalah-masalah kemacetan, persampahan,
perparkiran, banjir, dan kerusakan lingkungan secara serius dan inovatif
•Mengembangkan kualitas angkutan umum dan penyediaan
fasilitas pedestrian yang nyaman
•Menjadikan Bandung kota yang nyaman dan ramah terhadap
perempuan, generasi muda, anak-anak, orang tua (manula), dan penyandang cacat antara lain dengan menyediakan berbagai fasilitas umum yang khas sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
•Mengembangkan iklim berusaha yang sehat, memfasilitasi
muncul dan berkembangnya usaha-usaha kreatif, dan meningkatkan daya saing pasar tradisional, pengusaha kecil dan sektor informal melalui penyediaan layanan perizinan yang mudah, modal dan ruang usaha.
•Mengubah mindset birokrasi untuk menjadi aparat yang tanggap,
profesional, dan bisa dipercaya.
•Menstimulasi dan memfasilitasi berbagai inisiatif independen dan
ekspresi kelompok-kelompok warga dengan menyediakan dan memfungsikan sarana olah raga dan kesenian, perpustakaan, dan ruang-ruang publik seperti taman-taman, ruang terbuka, dan fasilitas kebudayaan.
•Mendayagunakan aset-aset kota termasuk potensi
kewirausahaan dan bakat kreativitas warga untuk kepentingan masyarakat

Untuk Bandung Tercinta (part 1)

June 13th, 2008 by hetifah

Beberapa gagasan yang ingin saya share untuk membangun Kota Bandung…
Membangun kota sehingga bisa terjangkau (aksesibel) bagi warga dengan mengatasi masalah kemacetan, mengembangkan kualitas angkutan umum dan penyediaan fasilitas yang layak dan nyaman bagi pejalan kaki dan penyandang cacat.
Membangun dan mengembangkan kegiatan ekonomi yang berwatak kerakyatan, yaitu usaha kecil dan menengah yang bertumpu pada kekuatan produktif manusia, sumberdaya lokal, kreativitas, dan teknologi tepat guna yang berperspektif kelestarian lingkungan.
Mengembangkan kesejahteraan sosial berdasarkan prinsip demokrasi, partisipasi dan kemandirian melalui produksi secara kolektif, koperasi atau kelompok ekonomi, sosial atau swadaya lainnya.
Memperkuat keadilan gender dalam bidang kehidupan ekonomi, sosial, politik dan budaya di masyarakat maupun pemerintahan dengan cara memberikan perlindungan hak-hak kaum perempuan dan insentif untuk pengembangan mereka. Untuk mendukung hal tersebut, akan disediakan fasilitas bagi kaum perempuan agar mereka dapat berpartisipasi penuh dalam kegiatan sosial, ekonomi, politik dan budaya, seperti mendirikan tempat-tempat penitipan anak di pabrik-pabrik, tempat-tempat kerja, komunitas-komunitas miskin kota, maupun tempat-tempat umum lainnya.
Mengembangkan dan memperkuat lembaga-lembaga demokrasi dan memberi ruang kebebasan bagi masyarakat sipil dalam menyampaikan pendapat maupun berorganisasi/berserikat.
Memprioritaskan pengembangan sektor industri dan perdagangan rakyat dengan cara memberi dukungan teknologi, pasar, sarana-prasarana, permodalan dan pengembangan sumberdaya manusia melalui pengorganisasian di bawah koperasi-koperasi atau asosiasi-asosiasi usaha rakyat.
Menciptakan sistem dan kebijakan yang dapat memberikan peluang dan akses yang mudah guna meningkatkan produktifitas usaha-usaha rakyat dan memastikan adanya pengalokasian dana APBD maupun perbankan dalam bentuk pinjaman lunak untuk membantu pengembangan usaha-usaha kecil-menengah produktif.
Menyediakan kesempatan kerja seluas-luasnya bagi pada pemuda-pemudi dengan membangun sektor-sektor usaha yang padat karya, tak terkecuali penghapusan terhadap segala bentuk praktek KKN di perusahaan-perusahaan negara maupun swasta dalam perekrutan tenaga kerja.
Tidak akan melakukan privatisasi industri dan jasa pelayanan publik yang berkait langsung dengan kepentingan masyarakat umum seperti pelayanan pendidikan dan kesehatan, listrik, air, transportasi umum, dan lain-lain agar tetap dikelola Pemerintahan dengan prinsip-prinsip efisiensi dan bersih dari praktek-praktek KKN yang dikontrol langsung oleh masyarakat.
Menstimulasi dan memfasilitasi berbagai inisiatif independen dan ekspresi kelompok-kelompok warga dengan menyediakan dan memfungsikan sarana olah raga dan kesenian, perpustakaan, dan ruang-ruang publik seperti taman-taman, ruang terbuka, dan fasilitas kebudayaan.
Memberikan perlindungan dan kepastian tempat tinggal bagi rakyat serta mengembangkan pola pemukiman pendudukan yang murah dan layak bagi kaum miskin kota, buruh, pegawai kecil, dan pekerja sektor informal lainnya berbasis partisipasi rakyat.
Menyediakan pelayanan air bersih, listrik, MCK, transportasi dan sarana prasarana lainnya secara murah kepada masyarakat dengan cara memberikan subsidi yang diambil dari pajak progresif, hasil keuntungan perusahaan-perusahaan daerah, dan dana-dana bantuan pemerintah lainnya.
Mengembangkan pola pendidikan rakyat yang murah dan berkualitas dari TK sampai perguruan tinggi, menghidupkan kembali sekolah-sekolah yang berbasis pada pengetahuan dan praktek pengalaman lapangan untuk mendukung pengembangan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Menyediakan pelayanan kesehatan gratis bagi seluruh rakyat dengan cara menerapkan sistem asuransi, meningkatkan kualitas layanan klinik kesehatan, rumah sakit, suplai obat-obatan, alat-alat kesehatan, tenaga dokter, voluntir kesehatan dan tenaga medis lainnya.
Mempermudah, mempermurah, dan mempersingkat pengurusan surat-surat kependudukan, perijinan usaha dan perijinan lainnya, dengan sistem One Stop Service.
Meningkatkan Ruang Terbuka Hijau menjadi seluas 20% pada akhir tahun kelima (2013).
Pengendalian perijinan dan pembangunan Bandung Utara.
Pengelolaan PKL dan sektor usaha informal lainnya secara bermartabat. Artinya, akan dilakukan penataan secara lebih manusiawi dan pembinaan untuk kemajuan usaha mereka.
Membatasi pembangunan mall-mall dan lebih memprioritaskan revitalisasi pasar-pasar tradisional.
Pengelolaan sampah yang lebih mengedepankan perspektif ramah lingkungan dan sosial.
Menjadi kebahagiaan tersendiri bagi saya jika anda berkenan berbagi gagasan dan masukan untuk kota kita tercinta; Bandung the creative city ever.