Untuk Bandung Tercinta (part-2)

Sebagai orang yang dilahirkan dan menghabiskan sebagian besar hidup di Bandung, saya merasa prihatin melihat adanya penurunan kualitas lingkungan maupun kualitas kehidupan warga Bandung dan tergerak untuk ikut berkontribusi mencari pemecahannya secara cerdas,kreatif dan partisipatif.

•Masalah-masalah perkotaan di Bandung tidak bisa dipecahkan
hanya dari aspek teknis, tapi juga menuntut adanya kepemimpinan yang kompeten, tanggap, dan peduli.

•Tantangan ke depan adalah bagaimana agar berbagai inisiatif dan
energi kreatif dan inovatif bisa berkembang di Bandung.

•Kualitas kepemimpinan yang dituntut kota Bandung saat ini adalah
adanya keseimbangan antara kepedulian, keberanian, dan keahlian sekaligus. Yaitu kepemimpinan yang mau mendengar apa yang diinginkan warganya dan memahami apa yang dibutuhkan kota ini, bisa tegas mengambil keputusan, dan bisa mengajak berbagai pihak untuk bersama menjalankannya.

Apa yang seharusnya dilakukan?
•Mencari terobosan dan keluar dari cara berpikir tradisional
•Pemanfaatan best practices dan bad practices dalam proses
perencanaan •Komitmen bersama dan meminimalkan ego-
sektoral
•Stakeholder democracy – pengambilan keputusan secara
inklusif
•Membawa pelayanan kepada warga bukan sebaliknya
•Melihat pedagang kaki lima dan sektor informal sebagai aset,
bukan masalah
•Memfokuskan pada hasil bukan input dalam penggunaan
anggaran daerah

Bagaimana caranya?
•Membuka akses terhadap pelayanan dasar dan pelayanan publik
seperti pendidikan, kesehatan, perumahan yang layak, kesempatan berusaha, informasi dan akses internet bagi warga.
•Memecahkan masalah-masalah kemacetan, persampahan,
perparkiran, banjir, dan kerusakan lingkungan secara serius dan inovatif
•Mengembangkan kualitas angkutan umum dan penyediaan
fasilitas pedestrian yang nyaman
•Menjadikan Bandung kota yang nyaman dan ramah terhadap
perempuan, generasi muda, anak-anak, orang tua (manula), dan penyandang cacat antara lain dengan menyediakan berbagai fasilitas umum yang khas sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
•Mengembangkan iklim berusaha yang sehat, memfasilitasi
muncul dan berkembangnya usaha-usaha kreatif, dan meningkatkan daya saing pasar tradisional, pengusaha kecil dan sektor informal melalui penyediaan layanan perizinan yang mudah, modal dan ruang usaha.
•Mengubah mindset birokrasi untuk menjadi aparat yang tanggap,
profesional, dan bisa dipercaya.
•Menstimulasi dan memfasilitasi berbagai inisiatif independen dan
ekspresi kelompok-kelompok warga dengan menyediakan dan memfungsikan sarana olah raga dan kesenian, perpustakaan, dan ruang-ruang publik seperti taman-taman, ruang terbuka, dan fasilitas kebudayaan.
•Mendayagunakan aset-aset kota termasuk potensi
kewirausahaan dan bakat kreativitas warga untuk kepentingan masyarakat

One Response to “Untuk Bandung Tercinta (part-2)”

  1. diabetic Says:

    diabetic
    Nice Site.

Leave a Reply